"Tagak Manjago Gunuang Marapi
Jauah Mancaliak Gunuang Singgalang
Oi Rang Banyak Kami Mananti
Nagari Sariak Samo Kito Jalang"

Nagari Sariak

Kec. Sungai Pua . Kab. Agam . Sumatera Barat

Deskripsi Singkat

Halo

Nagari Sariak

Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam
  • Nagari Sariak berada di Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Luas Nagari: 9,74 Km2 atau 25,76 % dari luas wilayah Kecamatan Sungai Pua.

  • Berjarak 2 Km dari ibu kota kecamatan, 90 Km dari ibu kota kabupaten dan 110 Km dari ibu kota provinsi.

  • Nagari Sariak berpenduduk 2.154 jiwa (2017) terdiri dari 1.046 laki-laki dan 1.108 perempuan.

  • Lambang dari Nagari Sariak tentu saja memiliki artinya tersendiri

Galeri Nagari

Topografi

‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎

Nagari Sariak mempunyai topografi yaitu kemiringan, ketinggian dan morfologi daratan, wilayah pegunungan, dataran tinggi dan dataran rendah. Nagari Sariak terletak pada daerah relatif yang bergelombang dan berbukit yang memiliki kemiringan tanah yang berkisar antara 5-25%. Dan Nagari Sariak terletak pada ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut..

Pertanian

‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎

Penggunaan lahan di Nagari Sariak didominasi oleh areal pertanian (sawah/ladang). Adapun jenis tanaman yang biasa ditanam adalah padi, jagung, cabe, tomat dan sayur-sayuran seperti: wortel, sawi, kol, kubis, buncis, brokoli dan sayuran lainnya. Dan hasil pertanian biasanya di jual di pasar terdekat seperti Pasar Koto Daru dan Pasar Padang Luar. Selain itu banyak ditanam pohon bambu yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan dan diperjualbelikan.

Agama

‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎

Penduduk Nagari Sariak seluruhnya memeluk Agama Islam dan sesual dengan Perda Nomor 05 tahun 2005, setiap anak yang melanjutkan sekolah kejenjang lebih tinggi harus bisa membaca Alqur'an apalagi dengan perkembangan zaman sekarang ini yang banyak dipengaruhi oleh budaya luar, akan banyak memberikan efek negatif bagi moral dan aqidah generasi muda yang ada di Nagari Sariak.

Yang Sering Di Akses

‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎

7 Jorong Nagari Sariak

Pandam

218,51 Ha

Wali Jorong : Taslim

736 Jiwa dengan 198 KK

Suntiang

94,27Ha

Wali Jorong : Maizul

244 Jiwa dengan 67 KK

Pasa Kubang Tabek

78,15 Ha

Wali Jorong : Midro

505 Jiwa dengan 138 KK

Dadok

38,30 Ha

Wali Jorong : Afrizul

167 Jiwa dengan 60 KK

Baruah Mudiak

27,43 Ha

Wali Jorong : Joni Saputra

301 Jiwa dengan 80 KK

Lukok

38,15 Ha

Wali Jorong : Joni Ismail

263 Jiwa dengan 90 KK

Sariak Ateh

79,31 Ha

Wali Jorong : Romi Wahyudi

35 Jiwa dengan 9 KK

Sumber : Tim Pendata Nagari Sariak 2021

Sejarah

Sejarah Singkat Nagari Sariak

‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎‎ ‎‎‎‎


  Dikutip dari profil Nagari bahwa masyarakat Sariak menurut keterangan orang tua-tua bersamaan dengan masuknya nenek moyang orang Minangkabau dapat diperkirakan waktu kedatangannya yaitu sekitar abad ke 15. Hal ini ada baiknya dikutip dari apayang dikatan berdasarkan tambo

“Dek lamo baka lamoan, nampaklah gosong dari lauik, yang sagadang talua itiak, sadang dilamun ombak. Dek lamo baka lamoan aia lauik basentah turun, nan gosong lah basentah naiak, dek dareklah sarupo paco, namun kaba nan baiak kian lorong kapado niniak kito, lah mandarek maso itu iyo dipuncak gunuang marapi. Dari mano titiak palito, dari telong nan barapi, dari mano asa niniak kito dari puncak gunuang marapi".

  Berasal dari daerah Pagaruyung Batusangkar. Meraka datang dengan tujuan untuk memperluas wilayah Pagaruyung. Orang Pagaruyung tersebut berjalan ke barat bersama dengan niniak mama Datuak Tumangguang dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Sekelompok masyarakat tersebut sampai kira-kira di Lereng Gunung Merapi. Hasil penglihatan tersebut menurut pendapat mereka ada sumber kehidupan di daerah itu. Maka mereka menelusurinya, sampailah di sebuah tempat dimana mereka menemui serumpun Batang Sariak. Batang sariak tersebut memiliki "miang" yang jika tersentuh maka akan menyebabkan gatal-gatal di kulit. Mereka yang dalam perjalan tersebut juga membersihkan batang sariak yang terkadang menghalangi jalan mereka, kemudian kelompok masyarakat tersebut mengalami kegatal-gatalan sehingga mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah kolam yang telah mereka temui sebelumnya untuk membersihkan badan yang kena miang tersebut, yang sampai sekarang kolam itu msih ada yang di kenal dengan Tabek Sariak. Setelah selesai mandi, sekelompok masyarakat tersebut mengadakan rapat dan dihasilkan kesepakatan bahwa daerah yang mereka temui itu diberi nama dengan SARIAK pada abad ke-15.

Jorong Baruah Mudiak, Nagari Sariak

Rumah panjang ini diperkirakan hadir di Nagari Sariak pada tahun 1700-1800an. Umur dari rumah panjang ini hingga saat ini telah mencapai 323-324 tahun. Pemiliknya merupakan Rang Sikumbang Sariak dan keluarga dari Datuak Rang Kayo Gadang

Jorong Sariak Ateh, Nagari Sariak

Menhir yang berlokasi di Sariak Ateh, Nagari Sariak ini berdiri tegak di tengah-tengah ladang atau kebun warga. Menhir ini diperkirakan memiliki panjang kurang lebih 2 Meter menjulang ke atas. Selain itu juga menhir ini memiliki lebar kurang lebih 1 Meter. Diperkirakan juga menhir ini lebih panjang dari yang terlihat, karena yang terlihat hanya bagian atas saja,

Jorong Sariak Ateh dan Pasa Kubang

Selain menhir, di nagari ini juga terdapat beberapa batu lasuang dengan ukuran yang besar dan terlihat kokoh. Batu Lasuang juga memiliki peran yang penting dalam kehidupan dan aktivitas masyarakat urang saisuak (dalam seseorang yang sudah tua dan sudah sangat lama sekali atau orang yang hidup pada zaman dahulu) di Nagari Sariak.

Jorong Baruah Mudiak

Batu kacio ini diyakini merupakan bekas tusukan pelampiasan amarah seseorang. Konon katanya pada masa itu terdapat dua orang yang tengah berkonflik dan tidak diketahui dengan pasti penyebab dari permasalahan tersebut. Seorang masyarakat berspekulasi bahwa pertengkaran itu bisa jadi disebabkan oleh masalah keluarga dan pembagian harta wilayah.

Mesjid Syuhada

Sejak 1800an

Jorong Pasa Kubang

Masjid syuhada juga merupakan salah satu mesjid tua yang ada di Nagari Sariak. Masjid syuhada memiliki keunikan dalam wujud arsitekturnya yang tidak seperti masjid-masjid pada umumnya. Salah satu hal paling menarik untuk dibicarakan adalah mengenai arsitektur Masjid Syuhada.

Jorong Pasa Kubang, Nagari Sariak

Batu lainnya yang ada di Nagari Sariak adalah batu manangih. Batu ini terletak di jorong Pasa Kubang. Masyarakat memberikan nama batu manangih karena batu ini terus mengeluarkan air di satu titik yang sama. Jalan daerah dimana batu manangih ini berada juga dinamakan sebagai jalan batu manangih.

Jorong Pasa Kubang, Nagari Sariak

Medan nan bapaneh cancang 16 atau lebih dikenal dengan nama guguak laweh merupakan balai atau tempat bersidang para pemimpin adat di alam terbuka. Medan nan bapaneh berasal dari dua kata, yaitu medan dan bapaneh. Medan berarti area dan bapaneh berarti panas. Medan nan bapaneh cacang 16 merupakan suatu area atau tempat yang terbuka dan berpanas yang digunakan sebagai tempat rapat para penghulu yang ada di Luhak Agam yang terdiri dari 16 Koto.

Jorong Pasa Kubang, Nagari Sariak

Nagari Sariak Mempunyai tugu perlawanan yang dinamakan sebagai Tugu Perang Panta. Tugu Perang Panta yang diresmikan pada tahun 2018 ini merupakan tugu yang dibuat dengan tujuan untuk mengenang usaha dan semangat pemuda Sariak untuk melawan Belanda. Tugu Perang Panta berlokasi strategis kerena berbatasan langsung dengan Nagari Sungai Pua.

Jorong Tabek Sariak, Pasa Kubang, Baruah Mudiak, Dadok dan Pandam

Berdasarkan hasil pendataan cagar budaya di Kecamatan Sungai Pua yaitu di Nagari Sariak diperoleh sekitar 49 bangunan dengan arsitektur kolonial. Bangunan tersebut tersebar di beberapa jorong yang ada di Nagari Sariak dimulai dari jorong Tabek Sariak, jorong Pasa Kubang, jorong Baruah Mudiak, jorong Dadok dan jorong Pandam. Rata-rata pembangunan rumah dengan arsitektur kolonial antara rentang tahun 1920-1935.

Berita Terbaru

Peninggalan Batu Manangih di Sariak

            Batu lainnya yang ada di Nagari Sariak adalah batu manangih. Batu ini terletak di jorong Pasa Kubang. Masyarakat memberikan nama batu manangih karena batu ini terus mengeluarkan air di satu titik yang sama. Jalan daerah dimana batu manangih ini berada juga dinamakan sebagai jalan batu manangih.

              Dalam pemahaman cerita rakyat yang ada, batu manangih merupakan bentuk kisah yang terjadi di zaman dahulu. Dimana diceritakan bahwa terdapat anak yang durhaka kepada orang tuanya. Namun tidak disebutkan siapa pemilik dari kisah ini. Karena kedurhakaan anak tersebut sang ibu yang hancur hatinya dan kecewa karena perbuatan sang anak dengan tidak sengaja mengeluarkan sebuah sumpah serapah yang ditujukan untuk sang anak. Setelahnya tubuh sang anak berubah menjadi batu secara perlahan. Sang anak yang terkejut dan takut dengan segera memohon ampun kepada ibunya dan menangis. Namun permohonan maaf tersebut berakhir sia-sia, tubuh sang anak sepenuhnya sudah menjadi batu yang terus mengeluarkan air. Cerita ini hanyalah cerita rakyat atau dongeng yang sudah sering kita dengar sebelumnya. Dibalik cerita rakyat yang berkembang tersebut tentunya terdapat makna yang bisa kita ambil dalam kehidupan, dimana kita sebagai seorang anak tidak boleh durhaka kepada orang tua. Mereka orang tua merelakan hidupnya dengan bekerja keras untuk anaknya, sebagai anak harusnya berbakti kepada mereka.

            Perlu diingat bahwa penamaan batu manangih yang ada di Nagari Sariak hanyalah penamaan biasa untuk menggambarkan keadaan batu itu tanpa ada tujuan lain dibalik penamaan tersebut. Pada kenyataannya batu ini terletak di tepi tebing tanah yang lumayan tinggi sehingga hal ini memungkinkan adanya aliran air di dalam tanah yang kemudian melewati batu tersebut.

            Hal ini didukung karena Nagari Sariak yang berada di lereng gunung merapi yang tentunya mempunyai tanah yang subur. Hal tersebut bisa menyebabkan adanya aliran air yang ada di dalam tanah, namun aliran air tersebut bisa berubah kapan saja yang disebabkan oleh pergeseran atau gempa. Sehingga karena pergeseran tersebut air tidak lagi mengalir melewati batu manangih itu.


Gambar 9. Batu Manangih yang sudah masuk ke dalam selokan 

Sumber : Koleksi Pribadi

            Batu manangih ini sekarang sudah jatuh ke dalam selokan, mungkin ini disebabkan oleh longsor yang menyebabkan batu ini jatuh ke bawah. Batu manangih ini juga sudah tidak mengeluarkan air seperti dulu karena tidak ada lagi aliran air yang melewati batu tersbut. Batu ini juga sekarang sudah tertutupi oleh rumput dan lumut, sehingga batu ini terlihat seperti batu biasa pada umumnya.

Peninggalan Batu Kacio di Sariak

 

           Batu kacio atau batu celengan dalam bahasa Indonesianya dapat kita temukan di Tabek Tanjuang, Nagari sariak. Batu ini dinamakan batu kacio karena memiliki bentuk seperti celengan. Layaknya yang kita ketahui bahwa celengan memiliki satu lubang kecil yang memanjang yang posisinya berada di tengah-tengah, maka dari itu masyarakat mengenalnya sebagai batu kacio.      

        Beberapa warga lainnya memiliki pendapat lainnya bahwa batu ini seperti batu bantuak batikam atau batu bentuk ditikam. Jika diperhatikan  lubang pada batu ini seperti bekas tusukan pisau atau benda tajam lainnya. Sama halnya seperti batu batikam yang ada di Lima kaum Kabupaten Tanah Datar, namun terdapat perbedaan ukuran lubang antara kedua batu. Batu batikam memiliki lubang yang cukup besar sementara batu kacio memiliki lubang yang ramping.

        Secara logika memang sulit untuk diterima bahwa batu adalah sebuah benda yang keras dan tidak mungkin untuk ditusuk sampai meninggalkan bekas yaitu lubang yang cukup dalam. Namun ini merupakan cerita yang diyakini masyarakat setempat dan masih terjaga sampai sekarang. Adanya cerita rakyat batu batikam ini berfungsi sebagai gambaran sosial dan norma budaya masa dahulunya.

            


Gambar 8. Batu  Kacio atau Batu Batikam

Sumber : Koleksi Pribadi

        Batu kacio ini diyakini merupakan bekas tusukan pelampiasan amarah seseorang. Konon katanya pada masa itu terdapat dua orang yang tengah berkonflik dan tidak diketahui dengan pasti penyebab dari permasalahan tersebut. Seorang masyarakat berspekulasi bahwa pertengkaran itu bisa jadi disebabkan oleh masalah keluarga dan pembagian harta wilayah. Pertengkaran  tidak bisa dihindarkan dan berlanjut dengan ingin saling menyerang satu sama lain. Namun salah satu dari mereka tidak tega untuk menyakiti saudaranya sendiri sehingga ia memilih untuk menusuk batu yang berada di sekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Namun perlu diingat bahwa ini hanya cerita berdasarkan kepercayaan warga sekitar. Pendapat ini hanya untuk mendukung berdasarkan bentuk batu kacio ini. Batu kacio ini juga terletak di tengah semak-semak yang jauh dari pemukiman warga yang menyebabkan banyaknya ke tidak tahuan mengenai informasi latar belakang batu ini.

Peninggalan Lasuang di Sariak

            Selain menhir, di nagari ini juga terdapat beberapa batu lasuang dengan ukuran yang besar dan terlihat kokoh. Batu Lasuang juga memiliki peran yang penting dalam kehidupan dan aktivitas masyarakat urang saisuak (dalam seseorang yang sudah tua dan sudah sangat lama sekali atau orang yang hidup pada zaman dahulu) di Nagari Sariak.

Pada zaman dahulu lasuang atau lesung mempunyai konteks yang digunakan sebagai tempat untuk menumbuk padi. Untuk mengenang masa dahulu, lasuang juga dipergunakan untuk bermain bersama dan juga lasuang dijadikan tempat mendapatkan pengalaman hidup di masa yang akan datang. Seorang ibu tidak hanya memberikan nasihat ketika ada di rumah saja, tapi anak mendapatkan petuah-petuah ketika berada di lokasi lasuang.

Dalam kehidupan keluarga Minangkabau termasuk di Nagari Sariak, lasuang tidak hanya berfungsi sebagai penumbuk berbagai bahan kebutuhan tetapi juga digunakan sebagai alat komunikasi sosial antara satu individu dengan individu lainnya. Disinilah baik secara sengaja atau tidak sengaja, seorang ibu telah menanamkan nilai komunikasi kepada anak-anaknya.

Lasuang tidak hanya terbuat dari batu, namun lasuang juga terbuat dari kayu. Adapun lasuang yang terbuat dari kayu, orang zaman dahulu menamakannya dengan antan atau alu. Mengenai lasuang ini, sebenarnya lasuang tidak hanya digunakan untuk menumbuk padi menjadi beras, namun dapat digunakan untuk menumbuk beras menjadi tepung. Tepung yang dihasilkan  dari olahan tumbukan langsung akan berbeda rasanya dengan olahan yang digunakan dengan mesin.

 


Gambar 4. Lasuang Gadang di Sariak Ateh, Nagari Sariak 

Sumber : Koleksi Pribadi

Lasuang pada gambar di atas oleh masyarakat Sariak lebih dikenal dengan sebutan lasuang gadang. Lasuang gadang berlokasi di Sariak Ateh dan terletak di pinggir jalan. Penempatan dari lasuang gadang ini jika diperhatikan menancap pada tanah, sehingga masyarakat beranggapan bahwa lasuang ini cukup tinggi. Menurut informasi yang di dapat bahwa urang saisuak ketika menggunakan lasuang ini harus naik menggunakan tangga karena cukup tinggi.

Masyakarat dahulu yang berada di Nagari Sariak menggunakan lasuang gadang ini dengan sebaik mungkin. Tapi pada saat sekarang ini perkembangan zaman yang berkembang dengan sangat pesat maka lasuang gadang telah ditinggalkan dan tidak terawat lagi dapat dilihat dari gambar diatas dalam penempatan lasuang sudah tidak layak lagi.

Pada saat ini lasuang gadang dalam kondisi yang tidak terawat. Dikarenakan lasuang gadang ini telah tertutupi oleh semak belukar, sehingga ketika mengunjungi lasuang tersebut para pengunjung tidak akan dapat melihat lasuang itu dengan jelas. Untuk dapat melihatnya secara jelas diharuskan untuk menebang atau membersihkan semak di sekitarnya.

Penempatan lasuang gadang yang strategis ini dapat menjadi pusat peninggalan sejarah yang masih ada hingga saat ini. Posisi penempatan dari lasuang gadang ini yang berada di pinggir jalan memudahkan masyarakat Nagari Sariak atau masyarakat umum untuk melihat dikarenakan lasuang gadang menjadi barang langka pada saat sekarang ini.

 

 

Gambar 5. Lasuang jantan  yang berlokasi di Pasa Kubang

Sumber : Koleksi pribadi

              Pada gambar 5 diatas lasuang ini dinamakan dengan lasuang jantan. Lasuang ini terletak di jorong Pasa Kubang yang ada di Nagari Sariak, untuk menemukan lasuang ini diharuskan untuk bertanya terlebih dahulu kepada warga sekitar. Dapat dilihat kondisi lasuang jantan lebih bersih dibandingkan lasuang gadang sebelumnya. Hal ini disebabkan karena keberadaan lasuang jantan ini berada di belakang rumah salah seorang warga maka dari itu, kebersihan dan keadaan lebih terawat. Adanya bunga dan rumput yang mempercantik  bentuk dari lasuang jantan ini, menjadi penarik bagi orang yang ingin mengunjungi lasuang jantan ini.

    Untuk fungsi dari lasuang jantan ini memiliki kesamaan dengan lasuang gadang, yang menjadi pembeda dari lasuang jantan ini adalah luasnya. Panjang yang berkisar kurang lebih 1 Meter dan juga lebar berkisar antara 50-60 cm. Tidak diketahui mengapa dinamakan dengan lasuang jantan, ini diyakini bahwa urang saisuak yang menamakan seperti itu dan terus berlanjut hingga ke generasi sekarang. Pemberian nama lasuang jantan tentu memiliki makna tersendiri sehingga diberikan nama demikian, namun tidak ada yang mengetahui alasan pasti alasan dibalik penamaan lasuang jantan itu.

                 Gambar 6. Lasuang yang berlokasi kantor walinagari di Pasa Kubang

Sumber : Koleksi pribadi

            Lasuang Gadang juga dapat kita temukan di depan kantor Wali Nagari Sariak. Lasuang ini ditempatkan di dalam halaman Kantor Wali Nagari Sariak. Berbeda dengan lasuang gadang sebelumnya, lasuang yang yang berada di kantor Wali Nagari ini lebih terawat dan terjaga. Hal tersebut bisa disebabkan oleh letaknya yang berada di tempat ramai sehingga lasuang tersebut lebih terawat.

Gambar 7. Lasuang Duo Baleh atau Lasuang Bunian yang berlokasi di Tabek Tanjuang

Sumber : Koleksi pribadi

Pada gambar diatas merupakan penampakan lasuang duo baleh atau lasuang bunian. lasuang ini dinamakan sebagai lasuang duo baleh dikarenakan lubang yang terdapat pada lasuang ada sebanyak 12 lubang. Namun beberapa masyarakat juga menyebutkan bahwa lasuang itu merupakan lasuang milik orang bunian. Berangkat dari mitos di Minangkabau orang bunian adalah makhluk yang memiliki alam tersendiri di dalam hutan sepi dan tidak dihuni oleh manusia. Menurut KBBI, orang bunian adalah makhluk halus atau siluman yang hidup di dalam hutan. Inilah yang menjadi ciri khas dan daya tariknya.      

Beberapa masyarakat juga mengatakan bahwa lasuang ini digunakan oleh orang bunian namun wujud mereka tidak pernah terlihat secara langsung. Jika diperhatikan memang tidak wajar jika suatu batu lesung memiliki lubang berjumlah 12, dan juga setiap lubang yang terdapat di lasuang duo baleh atau lasuang bunian memiliki ukuran yang tidak sama dimulai dari yang besar dan yang kecil. Tentu hal ini akan menarik rasa penasaran dibalik latar belakang lesung ini bagi yang melihatnya.

Lausuang duo baleh atau lasuang bunian ini juga letaknya berdekatan dengan mata air di tabek sariak. Berdasarkan gambar 7 diatas dapat dilihat jika kondisi lasuang sangat tidak terawat, bahkan beberapa bagian lasuang sudah dibeton untuk aliran air yang menyebabkan lubang lainnya yang ada pada lasuang tidak terlihat dengan jelas. Rumput-rumput dan lumut juga ikut menutupi lasuang ini, sehingga untuk dapat melihat lubang dengan jelas diharuskan untuk membersihkan rerumputan dan lumut yang terdapat di dalam lubang lasuang.

Lasuang telah ditinggalkan dan nilai kehidupan yang telah terbagun sebelumnya telah kehilangan konteksnya. Keberadaan lasuang yang ada di Nagari Sariak ini  telah ditelan oleh masa, maka dari itu lasuang ini harus dibangkitkan lagi, salah satu caranya dengan membuat informasi semenarik mungkin agar masyarakat tidak jenuh dan bosan dalam melihatnya dan juga perlu penanaman pengetahuan mengenai penunggalan sejarah ini kepada anak-anak yang akan menjadi penerus negeri ini agar peninggalan sejarah yang ada di Nagari Sariak ini tidak punah dan hilang begitu saja.

      Banyaknya lasuang dan jenisnya yang terdapat di Nagari Sariak berdasarkan penjelasan sebelumnya, bisa menjadi potensi peninggalan sejarah di Nagari Sariak. Peninggalan lasuang ini adalah sebagai bukti aktivitas dan kebudayaan manusia dahulu. 

Kata Kata Motivasi

Ketahui Lebih Jauh Tentang Nagari Sariak

Kontak